Anime vs Kartun! Mana yang Lebih Mudah?

cr: SAN-X

Halo Starlings~

Perkembangan zaman memicu menjamurnya film dan serial animasi di berbagai belahan dunia, salah satunya anime asal Jepang. Saat ini, istilah "anime" telah menjadi identitas khusus untuk menyebut karya animasi produksi Negeri Sakura. Sebaliknya, istilah "kartun" lebih sering digunakan untuk menggambarkan animasi bergaya Barat.

Namun, penggunaan istilah ini kian spesifik di kalangan penggemar. Kata "kartun" sering kali diasosiasikan secara eksklusif dengan tontonan animasi Barat yang ditujukan bagi audiens anak-anak. Sementara itu, untuk karya animasi Barat yang mengusung tema lebih gelap, kompleks, dan diperuntukkan bagi penonton dewasa, biasanya lebih akrab disebut sebagai western animation.

Perbedaan penyebutan ini mencerminkan bagaimana audiens kini lebih detail dalam mengelompokkan konten berdasarkan asal negara, gaya visual, hingga target usia penontonnya. Hal ini membuktikan bahwa industri animasi telah berevolusi menjadi media yang sangat beragam dan tidak lagi hanya dianggap sebagai konsumsi anak-anak semata.

Apakah ada perbedaan antara Anime dan Kartun? Yuk, kita lihat bersama, Starlings!

Apa itu Anime?

cr: One Piece, Eiichiro Oda

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), anime didefinisikan secara sederhana sebagai animasi atau kartun khas Jepang. Namun, pemahaman makna kata ini sebenarnya jauh lebih kompleks karena melibatkan perbedaan perspektif budaya yang tajam antara masyarakat Jepang dan komunitas internasional.

Secara etimologi, kata anime merupakan serapan dari istilah bahasa Inggris, animation. Di negara asalnya, Jepang, istilah anime (アニメ) bersifat sangat inklusif. Kata ini merujuk pada segala bentuk gambar bergerak tanpa memandang asal produksinya. Bagi warga Jepang, karya Barat populer seperti Frozen, SpongeBob SquarePants, hingga The Lion King semuanya dikategorikan sebagai anime. Di sana, istilah tersebut berfungsi sebagai terminologi umum yang mencakup seluruh medium animasi secara universal.

Sebaliknya, di luar wilayah Jepang, termasuk di Indonesia, istilah ini mengalami penyempitan makna yang cukup spesifik. Penonton internasional menggunakan kata anime sebagai label eksklusif untuk gaya visual, narasi, dan teknik produksi animasi yang berasal dari Negeri Sakura saja. Sementara itu, karya animasi dari negara lain biasanya tetap diklasifikasikan sebagai kartun.

Perbedaan definisi ini sering kali memicu diskusi panjang di kalangan penggemar. Bagi sebagian orang, anime adalah identitas budaya dan gaya seni unik, sedangkan bagi masyarakat Jepang, ia hanyalah singkatan fungsional untuk medium film. Memahami dualitas makna ini sangat penting untuk menghargai bagaimana sebuah istilah teknis dapat berevolusi menjadi simbol identitas bangsa saat melintasi batas-batas geografi dan budaya global.

Apa itu Kartun?

cr: Spongebob Squarepants, Nickelodeon

Kartun bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan bentuk seni visual yang memiliki sejarah panjang. Secara etimologis, istilah ini berasal dari bahasa Italia, cartone, yang berarti kertas besar. Pada awalnya, kartun hanyalah berupa sketsa kasar atau karikatur yang berfungsi sebagai rancangan untuk lukisan fresco pada abad ke-16. Seiring berjalannya waktu, konsep ini bertransformasi menjadi gambar bergerak yang kita kenal sebagai animasi.

Pada masa awal perkembangannya, para kreator menggunakan teknik stop motion untuk menghidupkan gambar secara manual. Namun, revolusi teknologi membawa perubahan besar. Penggunaan teknologi Computer-Generated Imagery (CGI) menandai era baru dalam industri ini, dengan film Toy Story tercatat sebagai pionir pertama yang sepenuhnya menggunakan teknologi komputer tersebut.

Saat ini, istilah "kartun" secara global sering kali merujuk pada animasi bergaya Barat yang menargetkan audiens anak-anak serta keluarga. Karakter ikonik seperti SpongeBob SquarePants, Tom and Jerry, Looney Tunes, hingga Mickey Mouse telah melampaui batas media dan menjadi simbol budaya pop yang dicintai lintas generasi.

Untuk mempermudah klasifikasi dalam konteks industri kreatif modern, kita dapat menyederhanakan definisi kartun sebagai animasi internasional non-Jepang. Hal ini mencakup seluruh produksi animasi dari Amerika Serikat, Eropa, hingga wilayah lainnya di luar Jepang, yang masing-masing membawa gaya visual dan teknik penceritaan yang unik. Dengan sejarahnya yang kaya, kartun terus berevolusi dari sekadar coretan di kertas besar menjadi industri global yang memengaruhi cara kita bercerita.

Perbedaan Anime dan Kartun

Bagi mata yang tidak terbiasa, melihat gambar bergerak mungkin terasa sama saja. Namun, bagi para penggemar budaya populer, mencampuradukkan istilah "anime" dan "kartun" bisa memicu perdebatan panjang. Meskipun keduanya berada di bawah payung besar animasi, terdapat jurang perbedaan yang signifikan dalam hal filosofi, estetika, hingga teknik produksi yang memisahkan keduanya.

1. Akar Sejarah dan Evolusi Terminologi

Perbedaan pertama dimulai dari etimologi. Kata "anime" sebenarnya merupakan serapan dari bahasa Inggris animation. Di negara asalnya, Jepang, istilah ini bersifat universal untuk menyebut segala jenis animasi. Namun, saat menembus pasar internasional, maknanya menyempit: anime menjadi identitas bagi animasi yang lahir dari tangan kreator Jepang atau yang mengadopsi gaya visual negeri sakura tersebut.

Sebaliknya, "kartun" memiliki sejarah yang lebih tua di Barat. Awalnya, kartun merujuk pada sketsa atau ilustrasi humor di media cetak. Seiring kemajuan teknologi bioskop dan televisi, istilah ini bertransformasi menjadi animasi dua dimensi yang dipelopori oleh raksasa seperti Disney. Perbedaan terminologi ini menciptakan batasan budaya yang kuat; anime membawa napas budaya Timur, sementara kartun kental dengan tradisi penceritaan Barat.

2. Estetika Visual: Realisme vs. Karikatur

Salah satu cara termudah membedakan keduanya adalah melalui tampilan fisik karakter.

  • Anime: Menggunakan pendekatan yang lebih artistik dan mendetail. Karakter anime seringkali memiliki mata besar yang berfungsi sebagai "jendela jiwa" untuk menunjukkan emosi yang kompleks. Proporsi tubuhnya biasanya lebih mendekati anatomi manusia asli, namun dengan sentuhan idealisme (kaki jenjang atau rambut yang unik). Detail pada latar belakang seringkali digarap menyerupai lukisan untuk menciptakan atmosfer tertentu.
  • Kartun: Lebih mengutamakan aspek karikatur. Karakter kartun biasanya didesain dengan fitur yang dilebih-lebihkan—seperti kepala yang sangat besar dibandingkan tubuh—untuk mempermudah penyampaian ekspresi komedi. Ketidaklogisan fisik adalah hal lumrah dalam kartun; karakter bisa jatuh dari tebing dan gepeng seperti kertas, lalu kembali normal dalam hitungan detik.

3. Spektrum Audiens dan Kompleksitas Narasi

Mungkin perbedaan yang paling fundamental terletak pada siapa yang menonton dan apa yang diceritakan. Di banyak negara Barat, kartun masih sering dipandang sebagai "tontonan anak-anak". Meskipun ada pengecualian seperti The Simpsons, mayoritas kartun bersifat episodik di mana konflik dimulai dan selesai dalam 20 menit tanpa dampak jangka panjang bagi karakternya.

Anime mendobrak batasan tersebut. Jepang membagi anime ke dalam demografi yang sangat spesifik:

  • Kodomo: Untuk anak-anak.
  • Shonen & Shojo: Untuk remaja laki-laki dan perempuan.
  • Seinen & Josei: Untuk pria dan wanita dewasa yang menyajikan tema dewasa seperti politik, seksualitas, hingga filosofi eksistensial.

Karena pembagian ini, alur cerita anime cenderung linear dan progresif. Karakter dalam anime tumbuh, menua, mengalami trauma, dan belajar dari kesalahan mereka sepanjang ratusan episode. Penonton diajak untuk melakukan perjalanan emosional yang panjang, bukan sekadar mencari tawa sesaat.

4. Teknik Produksi: Gerakan vs. Sinematografi

Secara teknis, kartun Barat sering menggunakan full animation. Fokusnya adalah kelenturan dan kelancaran gerakan (biasanya 24 frame per detik). Itulah sebabnya karakter kartun terasa sangat dinamis dan lincah.

Anime, karena keterbatasan anggaran pada masa awal perkembangannya, mempopulerkan teknik limited animation. Alih-alih memfokuskan pada banyaknya gerakan, kreator anime lebih menekankan pada sinematografi. Mereka menggunakan sudut kamera yang dramatis, pencahayaan yang bermain dengan bayangan, serta teknik pan-zoom pada gambar diam (still shot) untuk membangun ketegangan. Dalam anime, satu helai daun yang jatuh dengan teknik slow motion bisa terasa lebih bermakna daripada adegan kejar-kejaran yang hiruk-pikuk dalam kartun.

5. Tema dan Muatan Konten

Terakhir adalah kedalaman konten. Kartun seringkali menjadi pelarian menuju tawa dan optimisme. Pesan moralnya biasanya disampaikan secara eksplisit dan berakhir bahagia.

Anime tidak ragu untuk mengeksplorasi sisi gelap kemanusiaan. Tidak jarang karakter utama dalam anime gagal mencapai tujuannya atau bahkan tewas demi nilai yang mereka yakini. Isu-isu seperti kesedihan yang mendalam, pengkhianatan, dan ambiguitas moral membuat anime terasa lebih "manusiawi" bagi banyak orang dewasa.

Untuk penjelasan lengkapnya, Starlings dapat menonton video dibawah ini.

cr: PatCat, YouTube

Nah, setelah mengetahui perbedaannya, Starlings dapat mempelajarinya dengan mengunjungi kanal sosial media untuk tutorial gambar anime dan kartun karena menurut aku, anime itu ada begitu banyak artstylenya dan begitu juga kartun.

Untuk Starlings suka menggambar anime, Starlings dapat mengunjungi Channel YouTube-nya MCDrawAnime karena memberikan seputar tutorial yang Starlings inginkan! Untuk Starlings yang menyukai kartun, Starlings dapat mengunjungi Channel YouTube-nya cartooningclub karena memberikan banyak seputar tutorial yang Starlings inginkan!

Begitulah Pengertian antara Anime dan Kartun! Jadi, Gimana menurut, Starlings? Apakah Starlings tertarik antara kedua, Anime dan Kartun?

Drop di kolom komentar ya, aku penasaran banget buat tahu pendapat Starlings!

Bye bye Starlings~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menggambar Dengan Mudah Untuk Pemula!

Cara Menggambar Anatomi Tubuh

Menggambar Tangan Itu Sebenarnya MUDAH??!!